Jumat, 06 April 2012

TEORI EKSISTENSIAL

Nama: Ulfi Rachma Amzi Nim: 101014045 PPB/ BK B 2010 BAB 1 Pendahuluan A. Latar Belakang Latar belakang makalah ini dibuat penulis adalah karena untuk memenuhi tugas mata kuliah “Teori konseling” yang diajar oleh Drs.Eko Darminto,M.Si dan Denok Setyawati, S.Pd, M.Pd. penulis memilih untuk mereview buku analisis eksistensial yang disunting oleh Drs.Zaenal Abidin,M.Si karena prnulis tertarik dengan teori eksistensial yang antara lain dikemukakan oleh Victor Frankl.Buku ini membantu menemukan makna dalam kehidupan ini agar lebih berarti. B. Rumusan Masalah 1. Apakah yang dimaksud dengan analisis eksistensial? 2. Siapa saja tokoh eksistensial? 3. Apa saja bagian dari fenomenologi eksistensial? 4. Bagaimana sebenarnya dunia orang kompulsif itu? 5. Apa saja kontribusi psikoterapi eksistensial dalam dunia psikologi? C. Tujuan a) Untuk memenuhi tugas mata kuliah teori konseling b) Untuk mengetahui eksistensial manusia c) Untuk memunculkan kebermaknaan hidup manusia d) Untuk memahami dunia orang kompulsif e) Untuk memahami teknik-teknik eksistensial BAB II Pembahasan Judul buku : Analisis Eksistensial untuk Psikologi dan Psikoterapi Penyunting : Drs. Zainal Abidin, M.Si Penerbit : PT. Refika Aditama Kota Terbit : Bandung Cetakan Pertama: Agustus, 2002 Bab 1 Analisis eksistensial: sebuah pendekatan kualitatif untuk memahami eksistensi dan pengalaman manusia Analisis eksistensial adalah suatu metode atau pendekatan yang digunakan baik untuk mengungkap gejala eksistensi dan pengalaman manusia, maupun untuk terapi psikiatris dan psikologi terhadap subjek atau klien yang membutuhkan penanganan psikiatris dan psikologis. Menurut Binswanger (dalam May,1961) analisis eksistensial merupakan kajian psikologis untuk mengungkap eksistensi manusia dalam tahap empiris. Menurut Heidegger (1962) analisis eksistensial merupakan kajian filosofis untuk mengungkap gejala Ada (sein), sebagaimana mengekspresikan dirinya dalam eksistensi manusia (dasein). A. Sejarah Munculnya Analisis Eksistensial Istilah analisis eksistensial pertama kali dikemukakan oleh seorang filsuf Jerman bernama Martin Heidegger (1889-1976). Secara garis besar, alur sejarah analisis eksistensial bisa digambarkan seperti berikut ini: Berikut ini adalah uraian mengenai tokoh-tokoh dan aliran-aliran dalam filsafat yang mendahului dan mempengaruhi eksistensial: B. Kierkegaard dan Nietzsche 1. Kierkegaard Kierkegaard adalah seorang filsuf Denmark, yang hidup secara singkat antara tahun 1813 sampai 1855. Dia menjawab pertanyaan “bagaimana caranya aku bisa menjadi seorang individu? ”, yakni bahwa “aku” (manusia) bisa menjadi individu yang otentik, jika memiliki gairah (passion), keterlibatan, dan komitmen pribadi dalam kehidupan. Tanpa memiliki hal-hal itu, aku (manusia) hanya akan menjadi “aku” (manusia) yang tidak otentik, menjadi manusia massa, menjadi segerombolan manusia yang anonym. Yang khas dari filsafat Kierkegaard adalah upayanya untuk menemukan subjektifitas atau pengalaman subjektif manusia sebagai faktor penting yang harus diberi tempat dalam setiap kajian tentang manusia. 2. Nietzsche (1844-1900) Melalui pengalaman hidupnya yang tragis dan proses pemikirannya yang melelahkan, ia menemukan jawaban bahwa manusia bisa menjadi manusia unggul jika ia mempunyai keberanian untuk merealisasikan dirinya secara jujur dan berani. C. Fenomenologi Fenomenologi merupakan suatu metode atau pendekatan untuk mendeskripsikan gejala sebagaimana gejala itu menampakkan dirinya pada pengamat. Gejala yang dimaksud adalah baik gejala yang secara langsung bisa diamati oleh pancaindera (gejala eksternal), maupun gejala yang hanya bisa dialami, dirasakan, diimajinasikan, atau dipikirkan oleh si pengamat, tanpa perlu ada refrensi empirisnya (gejala internal). Tujuan dari fenomenologi yakni, “kembali pada realitasnya sendiri”. Realitas yang dimaksud tidak lain adalah gejala pertama, murni, dan asli. D. Eksistensialisme Eksistensi dan pengalaman manusia dengan menggunakan metode fenomenologi. Kesadaran pada dasarnya adalah intensional dan dunia manusia pada dasarnya merupakan hasil penciptaan (pemaknaan) manusia dan ia hidup dalam dunia yang telah “diciptakan” atau dimaknakannya itu (lebenswelt). 1. Hasil analisis atas eksistensi manusia 1). Eksistensi manusia adalah suatu proses yang dinamis, suatu “menjadi” atau “mengada”. 2). Eksistensi adalah pemberian makna. Manusia tidak bersifat inamen (terkurung dalam dirinya sendiri), melainkan transeden (keluar/ melampaui dirinya sendiri). 3). Eksistensi adalah ada-dalam-dunia. 4) manusia hidup dalam Mitwelt, Eigenwelt, dan Umwelt. Umwelt adalah dunia kebutuhan biologis, dorongan hewani, naluri tidak-sadar, dan segala sesuatu yang biasanya dinamakan “lingkungan” (environment). Mitwelt adalah dunia perhubungan antar manusia, yang khas manusia. Eigenwelt adalah pusat dari perspektif saya dan pusat dari perhubungan saya dengan benda-benda atau orang lain. 5). Eksistensi adalah “milik pribadi”. 6). Eksistensi mendahului esensi. 7). Eksistensi adalah otentik atau tidak-otentik. 2. Hasil analisis atas pengalaman manusia 1).Kematian (ketiadaan) adalah peristiwa yang membayang-bayangi eksistensi. Respon terhadap kematian bisa mengambil banyak bentuk. Diantaranya adalah: a. melarikan diri dengan cara menyibukkan diri dengan kerja. b. menerima kemayian sebagai fakta yang tidak bisa dihindarkan dan mengambil posisi humanis. c. memberontak terhadap kematian, dll. 2).Kecemasan (angst atau anxiety) adalah kondisi mencekam dimana manusia berhadapan dengan “ketiadaan” (Nicth atau nothing atau non-being). 3). Kehendak bebas. 4). Waktu (temporalitas). 5). Ruang (spasialitas).“ruang yang dihayati” oleh emosi seseorang. 6). Tubuh. Manusia bukan hanya kesadaran, melainkan juga tubuh. 7). Diri sendiri. 8). Rasa bersalah. E. Psikologi Fenomenologis Psikologi fenomenologis merupakan penerapan metode fenomenologis untuk menjelaskan atau mendeskripsikan gejala-gejala psikologis. F. Analisis Eksistensial Analisis eksistensial mengacu pada 2 disiplin yang berbeda, yakni pada (1) penerapan metode fenomenologi untuk menjelaskan eksistensi manusia. (2) aplikasi metode fenomenologis dan temuan-temuan eksistensialisme dalam terapi-terapi psikologis dan psikiatris. Analisis eksistensial bersifat empiris. Berikut ini langkah-langkah fenomenologi dan temuan-temuannya: 1. Analisis eksistensial, behaviorisme, dan psikoanalisis. Para analisis eksistensial menentang asumsi-asumsi vitalisme dan materialism, yang terdapat di dalam psikoanalisis dan behaviorisme. Mereka menilai bahwa kedua aliran tersebut mengabaikan bukan hanya keunikan manusia, tetapi juga nilai kemanusiaan dari manusia. 2. Beberapa asumsi tentang manusia yang terdapat dalam analisis eksistensial, behaviorisme, dan psikoanalisis. Asumsi tentang manusia Hakekat manusia Pusat kendali/Dorongan perilaku Tabiat manusia Posisi manusia dalam dunia Behaviorisme Organisme/Materi Eksternal (stimulus) Netral (Tabula rasa) Tidak bebas (deterministik) Psikoanalisis Organisme Eksternal (Id) Jahat (naluri jahat) Tidak bebas (deterministik) Analisis Eksistensial Tubuh yang berkesadaran Internal (intensioalitas) Baik (suara hati) Bebas (indeterministik) 3. Beberapa asumsi tentang metode yang terdapat dalam analisis eksistensial, behaviorisme, dan psikoanalisis. Asumsi tentang metode Hukum Kedudukan teori Sikap peneliti Kedudukan subjek kajian Behaviorisme Kausalitas Sebagai asumsi Berjarak (netral) Objek Psikoanalisis Kausalitas Sebagai asumsi Berjarak (netral) Objek Analisis Eksistensial Intensionalitas Disimpan dalam tanda kurung(reduksi fenomenologis) Trellibat (interpersonal) Sujek 4. Langkah-langkah umum metode analisis eksistensial Mereka umumnya menggunakan reduksi fenomenologis dan reduksi eidetic dalam mendeskripsikan eksistensi dan pengalaman subjek yang sedang mereka selidiki. Yang menjadi tujuan penelitian analisis eksistensial pada dasarnya adalah rekonstruksi eksistensi dan pengalaman manusia. Oleh sebab itu, peneliti analisis eksistensial harus mengungkap aspek-aspek pengalaman yang sangat esensial pada diri subjek (pasien). Bab 2 Asal-Usul dan Makna Gerakan Eksistensial Dalam Psikologi Psikologi dan psikoterapi sebagai ilmu memang berkenaan dengan manusia. Tapi sama sekali bukan dengan manusia yang secara mental sakit, melainkan dengan manusia pada umumnya. Munculnya gerakan analisis eksistensial berbeda dari munculnya gerakan-gerakan atau aliran-aliran lain karena 2 hal. Pertama, analisis eksistensial tidak didirikan oleh seorang tokoh atau pimpinan, melainkan tumbuh secara spontan dan secara asli (indigenous) di berbagai tempat yang berbeda. Kedua, gerakan ini tidak ditujukan untuk membangun sebuah mazhab atau teknik terapi baru sebagai perlawanan terhadap mazhab-mazhab atau teknik-teknik terapi lain. Ada kritik terhadap gerakan analisis eksistensial. Pertama adalah adanya prasangka, bahwa analisis eksistensial merupakan campur tangan (intervensi) filsafat dalam psikiatri, dan tidak banyak manfaatnya untuk ilmu. Sumber perlawanan kedua adalah tendensi dalam masyarakat ilmiah untuk bergelut hanya dengan teknik dan tidak sabar dengan upaya mencari landasan yang mendasari teknik tersebut. A. Apakah Eksistensialisme itu? Istilah eksistensi berasal dari akar kata “ex-sistere” yang secara literal berarti bergerak atau tumbuh ke luar. Eksistensi menunjuk pada kehadiran pribadi yang mengada atau menjadi. Mereka menegaskan bahwa adalah mungkin dan mutlak perlu untuk memiliki ilmu pengetahuan tentang manusia dalam kenyataan manusia itu sendiri. Pertalian yang sangat penting antara gerakan eksistensial dengan psikoterapi: kedua-duanya berkenaan dengan individu-individu yang sedang mengalami “krisis” yang disebabkan oleh “kecemasan dan keputusasaan”. Eksistensialisme adalah suatu sikap yang menerima manusia sebagai sesuatu yang saling menjadi, yang berarti secara potensial ada dalam “krisis”. Namun tidak berarti bahwa manusia selalu dalam keadaan tanpa harapan. Eksistensialisme bukanlah filsafat atau the way of life yang komprehensif, melainkan suatu cara dan upaya untuk menangkap kenyataan. Dari perspektif dan taraf yang berbeda, kedua jenis pendekatan tersebut berupaya keras menganalisa kecemasan, keputusasaan dan keterasingan manusia baik dari dirinya sendiri maupun dari masyarakat. B. Keretakan dan Gangguan Batin pada Abad Kesembilan Belas Karakteristik utama paruh utama abad kesembilan belas adalah tercerai-berainya atau retaknya (fragmentasi) kepribadian. Fragmentasi ini, seperti yang kita lihat, tampak dari gejala-gejala emosional, psikologis, dan spiritual baik yang terjadi pada tingkat kebudayaan, maupun pada tingkat individu. Mereka sadar bahwa sumber dari segala ancaman yang sangat serius pada dasarnya berasal dari rasio yang dipadukan ke dalam mekanika, yang pada akhirnya memperlemah vitalitas dan kekuatan individu. Kierkegaard, telah menyadari adanya kehidupan emosional dan spiritual yang mampu menghancurkan tatanan masyarakat (dan kepribadian). Kehidupan emosional dan spiritual itu adalah: kecemasan, keterasingan, kesendirian dari seorang manusia ke manusia lain yang bersifat endemis, yang akhirnya kondisi yang akan membawa manusia kearah keputusasaan yang mencekam, kearah alinasi manusia dari dirinya sendiri. Kierkegaard dan Nietzsche sangat sadar bahwa “penyakit jiwa” yang dialami oleh manusia barat pada dasarnya adalah penyakit yang lebih dalam yang lebih ekstensif daripada yang dapat dijelaskan oleh persoalan-persoalan sosial dan individual yang spesifik. C. Kierkegaard, Nietzsche, dan Freud Pandangan Kierkegaard mengenai makna kesadaran diri dan analisisnya mengenai konflik-konflik batin serta persoalan-persoalan psikosomatik yang telah dilakukan jauh sebelum Nietzsche dan Freud, sungguh mengejutkan. Ini semua memperlihatkan sensitivitas Kierkegaard pada apa yang tengah terjadi di bawah kesadaran manusia pada saat itu. Salah satu sumbangan Kierkegaard yang sangat penting pada psikologi adalah formulasinya tentang kebenaran-sebagai-perhubungan. Analisa Kierkegaard membuka ruang yang bisa memperluas cakrawala kenyataan subjektif (batin), karena memperlihatkan fakta bahwa kenyataan subjektif itu bisa saja benar, meskipun mungkin bertentangan dengan fakta objektif. Kontribusi penting kedua dari Kierkegaard pada psikologi dinamika terletak dalam tekanannya pada keniscayaan dari komitmen. Pernyataan ini mempunyai implikasi radikal, bahwa kita tidak akan pernah bisa melihat suatu kebenaran, kecuali kita sudah mempunyai komitmen dengannya. “komitmen” dan “passion”, pada prinsipnya merupakan perlawanan terhadap observasi objektif yang “tidak memihak” (disinterested). Konsekuensi dari penggunaan komitmen ini adalah bahwa (1) kita (terapis) tidak mungkin bisa sampai pada tingkat persoalan yang sungguh-sungguh dialami oleh pasien hanya melalui eksperimentasi laboratorium; alasannya, lokalisasi pengalaman di dalam laboratorium tidak bisa mewakili segenap pengalaman pasien, dan (2) hanya kalau pasien itu sendiri mempunyai kemauan dan harapan untuk bebas dari penderitaan dan keputusasaannya, maka perosalan yang ia hadapi akan tertanggulangi. Namun, untuk sampai pada penanggulangan itu ia harus menemukan inti dari eksistensinya terlebih dahulu, dan untuk itu diperlukan komitmen pada dirinya. Kita sekarang akan melihat kontribusi pada Nietzsche. Dalam refleksinya, ia berhasil menemukan fakta bahwa terdapat sumber yang irrasional. Yang tidak-sadar, yang tidak waras, serta yang destruktif di dalam kekuatan dan kebesaran manusia. Para psikolog-dalam sama-sama mengembangkan intensitas kesadaran diri. Nietzsche dan Kierkegaard melihat adanya disintegrasi psikologis dan emosional yang berhubungan dengan hilangnya hilangnya keyakinan manusia akan martabat dan kemanusiaannya. Menurut Nietzsche, kekuasaan merupakan dinamika utama dan kebutuhan hidup manusia. Ini berhubungan langsung dengan persoalan dengan psikologi mengenai dorongan dasar organisme, yang kalau dihambat bisa membuat kita menderita neurosis. Kekuasaan bukanlah dorongan untuk mencapai kesenangan, melainkan untuk menghidupkan potensi-potensi yang ada. Analisis eksistensial adalah suatu gerakan yang membawa pemahaman baru tentang manusia pada taraf yang lebih dalam dan lebih tinggi, yakni manusia sebagai manusia. Analisis eksistensial mendasarkan diri pada asumsi bahwa adalah mungkin untuk mempunyai ilmu tentang manusia yang tidak memilah-milah manusia dan tidak menghancurkan kemanusiaannya. Analisis eksistensial berusaha memadukan ilmu dan ontology, suatu usaha yang jika berhasil akan membuat pemahaman tentang manusia menjadi semakin dalam, kaya, dan variatif. Bab 3 Psikologi Fenomenologi Eksistensial A. Psikologi Tradisional (behaviorisme) Semua perilaku manusia, dijelaskan sebagai respon yang bersumber dari sistem pusat syaraf pusat terhadap stimulus yang mendahuluinya. Behaviorisme mengambil alih asumsi-asumsi mengenai hakekat “objek” dari ilmu-ilmu alam dan filsafat materialisme. Dan diasumsikan mempunyai kriteria : bisa diobservasi (observable), bisa diukur (measurable), dan bisa diamati ulang oleh peneliti lain. Objek harus menempati ruang dan waktu (spatio-temporal), dan objek yang satu berhubungan dengan objek-objek yang lain. B. Psikologi Fenomenologi Eksistensial Fenomenologi eksistensial adalah suatu filsafat yang merupakan gabungan dari fenomenologi dan eksistensialisme. Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang berusaha memahami kondisi sebagaimana memanifestasikan dirinya di dalam situasi-situasi kongkret. Bukan hanya cirri-ciri fisiknya, melainkan juga seluruh momen yang hadir pada saat itu. Fenomenologi adalah metoda yang bisa membantu kita untuk mendekati gejala sebagaimana kita menghayati, menghidupi, atau mengalami gejala itu secara sebenarnya. Fenomenologi eksistensial merupakan disiplin filsafat yang berusaha memahami peristiwa-peristiwa eksistensi manusia dalam suatu cara yang bebas dari asumsi-asumsi budaya warisan kita, baik yang berasal dari dualism dalam filsafat (jiwa dan tubuh) dan dalam psikologi (perilaku dan pengalaman), maupun dari saintisme dan positivism. 1. Konsep-konsep dasar fenomenologi eksistensial Berbeda dari behaviorisme, psikologi fenomenologi eksistensial menempatkan manusia bukan sebagai objek (fisik), melainkan sebagai “subjek”. Manusia dilihat sebagai suatu kesatuan yang menyeluruh. Manusia eksistensial lebih dari manusia alam. Manusia adalah aktif, karena secara sadar dan sengaja sengaja membentuk atau memberi makna pada dunia. Yang dimaksud dengan dunia menurut pandangan Husserl adalah dunia sehari-hari yang belum diinterpretasikan, baik oleh interpretasi ilmiah maupun oleh interpretasi filsafat. Kesadaran sebagai sesuatu yang membuat objek hadir. Kesadaran adalah forum dimana gejala menunjukkan dirinya atau mengungkapkan dirinya. ia sama seklai bukan entitas atau kekuatan misterius yang dengannya objek diciptakan. Mengatakan bahwa kesadaran adalah “kesadaran pada” berarti bahwa kesadaran mempunyai objek. Kesadaran adalah intensional, mengarah pada sesuatu. 2. Implikasi untuk penyelidikan psikologis Psikologi fenomenologi eksistensial ada di tengah-tengah pendekatan yang objektif dan subjektif. Para psikolog fenomenologi eksistensial menolak pengertian kausalitas dalam cara yang linear (yakni menolak kepercayaan bahwa perubahan diawali dan diarahkan oleh peristiwa-peristiwa eksternal). 3. Sifat dasar struktur (Esensi) Para psikolog fenomenologi hendak mengungkap struktur atau esenei pengalaman melalui teknik deskriptif. Metoda deskripsi melalui refleksi terdisiplin yang menggantikan metoda eksperimen, dan struktur atau esensi kesadaran menggantikan perhubungan sebab-akibat. Struktur atau esensi adalah konsep dasar dalam pendekatan psikologi fenomenologi eksistensial. Hal yang sama tampak dari gejala psikologis seperti “rasa cemas” (being anxious). Cemas adalah pengalaman yang mempunyai makna buat kita. Bentuk perasaan cemas bisa dirasakan secara jelas pada beragam kasus yang berbeda. Bab 4 Dunia orang kompulsif A Masalah Tulisan ini hendak medeskripsikan dunia”tempat” individu kompulsif hidup. Fokus penyelidikannya adalah pada cara berada yang khas di mana individu tersebut berada dalam dunia khasnya, yang berbeda dari dunia kita. Kasus H.H (kasus anakastic psycopath) Pasien berusia 17 tahun, terkesan pemalu, introvert, merasa ditolak dan dihambat.Sebetulnya ia seorang pelajar yang pintar dan ambisius Ia pernah jadi pemimpin di kelasnya dan mamu menangkap secara cepat setiap pelajaran yang disampaikan oleh guru-gurunya. Pasien mengeluh kompulsinya,ia menganggap dirinya abnormal. Ketika berusia 12 tahun,untuk pertama kalinya ia “mimpi basah”.Pagi harinya ia merasakan bau menyengat pada tubuhnya. Ia terus menerus dibayangi oleh pikiran bau busuk dan pikiran ini menghambatnya untuk berbicara dan berhubungan dengan orang lain. Kompulsi mengendalikan dan menentukan pasien dalam segala hal.Kompulsi dimulai pada saat pasien bangun tidur di pagi hari.Kompulsi berlangsung secara ritual. Ia selalu merasa bersalah (guilty conscience). Kompulsi untuk mengatur, menentukan segalanya,bahkan menentukan cara makan dan menuju pintu. Jika ia menyentuh sesuatu,ia merasa dirinya menjadi kotor (pasien mengalami kompulsi mencuci). Ia tidak pernah bisa tenang; semuanya harus harus dianalisa atau diperiksa,direkapituasi atau diulang atau dicuci-dan ketika melakukan semua hal itu,ia diganggu oleh bau tubuhnya sendiri. Ia betul-betul tertekan dan tanpa harapan. Ia hidup tanpa adanya kehidupan seksual. B Aspek gangguan dalam sindroma kompulsi: Ilusi bau yang bersifat fobia Penyakit kompulsi H.H.,dikenal juga “disturbance psychism”,ditandai oleh obsesi bau tubuh yang bersifat ilusi. Sebetulnya, sesuai dengan fobia anankastis yang bersifat ilusi,ada kecenderungan pasien untuk larut bau air kencing yang bersifat ilusi. Kesadaran akan bau yang repulsif selalu menganggu ritme kehidupan yang normal. Pasien terjerat perasaan sakit,aversiv,malu dan jijik. H.H. terperangkap dalam masa lalu.Bau busuk tubuhnya sendiri yang tidak bisa hilang sinonim dengan terikatnya pasien pada masa lalu,sedangkan maasa depan yang seharusnya diwujudkan dalam tugas-tugas yang bermakna,justru dikorbankan. C Sisi defensif dari sindroma kompulsi dan hakekat (sifat dasar) kompulsi. (H.H.menderita gangguan kemampuan untuk bertindak). Gangguan ini tampak dari terhambatnya pasien untuk memulai sesuatu yang baru dan untuk meneruskan atau menyelesaikan sesuatu. Ia mengalami gangguan kemampuan unuk bertindak disertai dengan kompulsi untuk kepastian. Ciri dari pengalaman kompulsi adalah bahwa terdapat “ya” dan ”tidak” yang simultan-penerimaan/kepatuhan berpasangan dengan penolakan batin. Sebagian besar aktivitas orang sehat dijalankan tanpa dibebani oleh niat yang kuat untuk menjadi pasti, sehingga ia tidak merasa gagal jika mengalami ketidakpastian. Orang sehat percaya pada dirinya sendiri,ia memaklumi dirinya bisa salah dan gagal.Ia hidup dalam suasana kebebasan. Berbeda dari orang normal,orang kompulsif justru berusaha agar akibat-akibat yang tidak penting dan tidak relevan dari objek-objek kehendaknya untuk menjadi akurat. D Pasien kompulsif dan dunianya Dunia pasien kompulsif adalah dunia yang terpisah dari koinos kosmos(dunia orang normal). Dibandingkan dengan pasien lain,pasien kompulsif cenderung untuk menghindar dari orang lain;oleh sebab itu,sukar sekali memahami kepribadian dan dunianya. Perbedaan antara pasien kompulsif dengan pasien-pasien lain yang mengakami gangguan untuk Menjadi adalah cara menangani gangguan peristiwa temporal batinnya. Pasien kompulsif mempertahankan dirinya terhadap efek yang mengancam dari kekurangan temporalnya sendiri,meskipun ia tidak mengetahui hal itu.Ia mempertahankan dirinya terhadap kemungkinan yang mengancam daari kehilangan bentuk dengan cara menolak objek-objek dan pikiran-pikiran tempat menghancurkan bentuk eksistensinya. Bab 5 Beberapa temuan dalam kasus schizophrenic depression. Pasien adalah seorang pria berusia 66 tahun. Gejalanya adalah depresive psychosis,disertai dengan delusi-delusi tentang hukuman mati dan “interprestasi yang meluas”(ekstensive-interprestasnsive interpretations). Pasien menunjukan perasaan-perasaan bersalah dan pikiran-pikiran tentang kehancuran.Ia menganggap dirinya sebagai orang asing yang telah melakukan tindak kejahatan,sehingga harus menjalani hukuman yang teramat kejam. Pikiran-pikiran tentang kesalahan, kehancuran, hukuman dan hukuman mati tersebut,disertai oleh interprestasi-interprestasi yang sungguh-sungguh “mengejutkan”.Ia menamakan semua itu “politik sampah”,yakni suatu sistem politik yang secara khusus dilembagakan hanya untuk dirinya. A. Temuan-temuan psikologis;perubahan-perubahan sikap dan perluasan delirium. Kadang-kadang ia bertingkah laku sebagai individu normal,mengambil bagian dalam perbincangan umum dan sama sekali tidak keluar dari patologinya. Perhatian kita lebih terarah pada fakta bahwa daerah simpton-simptonnya bervariasi san perubahan-perubahan terjadi menurut keadaan-keadaan tertentu. Ada 2 sikap pada pasien yang perlu untuk kita bedakan : kadang-kadang unsur delusional dan deliriumnya yang dominan. Perubahan kedua sikap dan perilaku tersebut tidak berlangsung dalam cara yang teratur;sebaliknya,perubahan tampaknya ditentukan,paling tidak sebagian,oleh faktor-faktor tertentu yang spesifik dan tunduk pada motif-motif tertentu. Perubahan simpton-simpton dan berbagai bentuknya membangun seejenis arus yang mengalir antara kehidupan normal dan jiwa patologis. B. Temuan-temuan fenomenologis Sejak pertama sudah jelas bahwa proses mental pasien berbeda dari kita, dengan adanya delusi-delusi. Psikiatri modern, dibantu oleh psikolog tentang kompleks-kompleks telah membuktikan bahwa simpton-simpton abnormal dapat dilacak dari dorongan-dorongan normal. Setiap hari berhadapan dengan peristiwa yang monoton dan menjengkelkan dari dunia yang sama, keluhan-keluhan yang sama, sampai-sampai orang lain mungkin akan berpikir bahwa pasien betul-betul telah kehilangan segenap makna kontinuitas yang mutlak harus ada di kehidupan. Demikianlah perjalanan waktu bagi pasien. Dorongan pribadi adalah faktor yang menentukan lebih dari sikap kita terhadap hubungannya dengan masa depan, tetapi juga menentukan perhubungan kita dengan lingkungan kita. Dalam dorongan pribadi ini, terdapat unsur perluasan (ekspansi), kita keluar dari batas-batas ego kita sendiri dan meninggalkan jejak pribadi pada dunia di sekitar kita. Dorongan hidup individu (pasien) melemah dan sintesa kapribadian manusiawinya rusak; unsur-unsur yang membentuk kepribadiannya memerlukan kebebasan (independensi) dan tindakan-tindakannya bukanlah berupa tindakan-tindakan yang bebas, perasaan akan waktu terputus dan tunduk pada perasaan akan rangkaian hari-hari yang sama dan monoton, dan sikap terhadap lingkungan ditentukan oleh gejala perasaan sakit inderawi; dalam dunianya hanya terdapat seorang pribadi yang sedang berhadapan dengan alam yang memusuhinya;objek-objek tersebut tidak lain adalah lawan yang memusuhinya. Bab 6 Kontribusi psikoterafi eksisensial Karakter khas analisa dan dengan Dasein (struktur eksistensi dari ada-khusus,yakni manusia) yang sedang berhadapan dengan kita. Kalau kita hendak mengetahui seorang pribadi,maka pengetahuan kita mengenai pribadi itu harus tunduk pada fakta eksistensi aktualnya yang menyeluruh. Kita dihadapkan pada sebuah dilema: A. Ada dan ketiadaan Ciri utama zaman modern ini di barat adalah kurangnya kesadaran akan ”makna ontologis” (makna ada). ”Tentang ‘ada’ sendiri, ”Marcel melanjutkan, ”harus diakui sangat sulit untuk didefinisikan. Ada adalah apa yang tetap tinggal tidak terungkapkan.ada adalah yang menetukan sekumpulan faktor-faktor kompleks yang deterministik. Istilah yang digunakan oleh para terapis eksistensial untuk menunjuk pada karakter utama eksistensial manusia adalah dasein. Terbentuk dari sein (ada) dan da (di sana), dasein berarti bahwa manusia adalah Ada yang terdapat di sana. Manusia adalah Ada yang mempunyai kemampuan untuk sadar akan,dan bertanggung jawab untuk,eksistensinya. Penerimaan oleh orang lain seperti oleh terafis misalnya,menunjukan pada pasien agar bisa diterima,ia tidak lagi perlu berjuang untuk melawan baik oranglain maupun dunia;penerimaan membebaskan dia untuk mengalami keberadaanya sendiri. Komentar ketiga adalah bahwa “ada” merupakan kategori yang tidak dapat direduksi pada perintah atau kewajiban yang berasal dari norma-norma sosial dan etis. Titik pusat tempat saya berdiri adalah “ada” saya sendiri. Komentar keempat, yang merupakan komentar paling penting dibandingkan dengan tiga komentar sebelumnya, adalah bahwa pengalaman mengenai “aku ada” tidak identik dengan “berfungsinya ego”. Ego seringkali dikatakan lemah pada anak-anak, lemah karena kurang memiliki kemampuan dalam menilai dan berelasi dengan realitas; sebaliknya makna ada sangatlah kuat, meskipun kemudian setelah anak belajar menjadi konformis, mengalami eksistensinya sebagai cermin dari penilaian orang lain terhadapnya, melepaskan originalitas dan makna ada primernya. “ada dan ketiadaan”, menunjukkan fakta bahwa ketiadaan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari ada. Jika dikaitkan dengan eksistensi, maka makna “dan” berarti eksistensi, setiap saat dan setiap waktu, dibayang-bayangi oleh ketiadaan. Tanpa kesadaran akan ketiadaan, maka eksistensi kita hambar, tidak nyata, dan akibatnya kesadaran diri yang konkret kehilangan kualitasnya. Namun dengan adanya ketiadaan, eksistensi berlangsung dalam suasana yang penuh vitalitas dan kesegaran, dan individu mengalami suatu kesadaran yang meningkat akan dirinya, akan dunianya, dan akan orang lain di sekitarnya. Kematian adalah bentuk ancaman yang sangat nyata dari ketiadaan. Kematian membuat eksistensi kita nyata, absolute, dan kongkret. Alasannya, kemampuan sebagai potensi absolute dan tidak bisa dihindari mampu mengindividualisasikan dan membuat manusia menjadi spesifik. Ditinjau dari aspek yang positif, kemampuan untuk menghadapi ketiadaan diilustrasikan dalam kemampuan untuk menerima kecemasan, permusuhan, dan agresi. B. Kecemasan dan rasa bersalah Kecemasan adalah ancaman terhadap dasar atau pusat eksistensi manusia. Kecemasan adalah pengalaman mengenai ancaman dari ketiadaan. Kecemasan menyerang pusat self esteem manusia dan maknanya sebagai “diri”, yang merupakan salah satu aspek dari pengalamnnya yang ada. Sebaliknya, ketakutan adalah ancaman terhadap pinggir-pinggir eksistensinya; ketakutan dapat diobjektifasi dan kita dapat berdiri “di luar” serta melihatnya. Kecemasan menyerang “pusat ada” seseorang. Jika kita tunduk pada kecemasan, pada tingkat tertentu kita tidak dapat membayangkan bagaimana eksistensi kita berada “di luar” kecemasan. C. Ada-dalam-dunia Kierkegaard, Nietzsche, dan para eksistensialis lainnya menunjukkan bahwa ada dua sumber utama kecemasan dan keputusasaan manusia modern. Pertama, hilangnya makna Ada, dan kedua, hilangnya dunia. Pengalaman isolasi, alinasi diri dari dunianya, diderita bukan hanya oleh orang-orang dalam kondisi patologis., tetapi juga orang-orang normal. Akarnya adalah alienasi dari dunia natural. Di balik aspek-aspek alienasi ekonomis, sosiologis, dan psikologis, sesungguhnya terdapat satu sebab yang utama, yakni alienasi sebagai konsekuensi dari empat abad yang lalu, yaitu pemisahan dunia subjektif (manusia) dari dunia objektif (alam). D. Tiga bentuk (modus) dunia Para analisis eksistensial membedakan tiga bentuk atau tiga aspek stimultan dunia, yang membuat eksistensi kita menjadi ada-dalam-dunia. Bentuk yang pertama adalah umwelt, yang arti literalnya dunia sekitar. Bentuk yang kedua adalah mitwelt, yang arti literalnya adalah dunia bersama. Bentuk yang ketiga, eigenwelt, yakni dunia milik sendiri. Ketiga bentuk/ modus dunia tersebut selalu saling berhubungan dan saling mengkondisikan satu sama lain. Manusia hidup dalam umwelt, mitwelt dan eigenwelt secara stimultan. Ketiga-tiganya sama sekali bukan tiga dunia, melainkan tiga cara berada dalam-dunia. E. Waktu dan sejarah Eksistensi selalu berada dalam proses menjadi, selalu berkembang dalam waktu, dan tidak terkurung dalam waktu, dan tidak pernah terkurung dalam lingkaran yang kaku. Eksistensi adalah “menjadi” atau “mengada”, dan bukannya “sudah ada”. Seperti yang dikatakan oleh Mowler dan Lindle, waktu adalah dimensi kepribadian yang khas manusia “dan” keterkaitan waktu.-yakni kemampuan manusia untuk menghadirkan masa lalu dan masa depan sebagai bagian dari kesatuan waktu menyeluruh pada saat ini-merupakan “esensi jiwa, di samping esensi kepribadian”. F. Melampaui (mengatasi) situasi saat ini Kemampuan manusia normal untuk melampaui situasi sekarang,tampak secara nyata dalam berbagai situasi sehari-hari. Pertama-tama dalam mengatasi batas-batas masa kini dan kemudian dalam membawa masa lalu dan masa depan ke dalam eksistensi saat ini. Kemampuan manusia untuk mengadakan transedensi tersebut,secara khusus tampak pada perhubungan-perhubungan sosial atau dalam relasi normal antara individu dengan masyarakat G. Beberapa implikasi untuk teknik psikoterafeutik Analisis ekstensial merupakan suatu cara memahami eksistensi manusia dan salah satu kendala utama dalam memahami keberadaan manusia adalah karena terlalu menekankan pada teknik. Pendekatan ektensial mengambil jalan yang berlawanan yakni, teknik mengikuti pemahaman.Tugas dan tanggung jawab utama terafis adalah memahami pasien sebagai Ada dan ada-dalam-dunianya. Beberapa implikasi mengenai teknik terafi: • Beragamnya teknik terapeutis diantara para terafis eksistensial. • Bahwa makna dari dinamisme-dinamisme psikologi pasien tergantung pada situasi eksstensial dan kehidupan laangsung pasien itu sendiri. • Tekanan analisis eksistensial pada kehadiran.Artinya,perhubungan terafis dengan pasien merupakan suatu perhubungan yang nyata. • Berkaitan erat dengan dengan diskusi tentang kehadiran : Dalam terafi diusahakan untuk “mengenyahkan secara habis-habisan“ cara-cara bertingkah laku yang menghancurkan kehadiran. • Berkaitan dengan proses terapeutik. • Berkaitan dengan pentingnya komitmen. Bab 7 Viktor E.Frankl Di Wina,Austria,pernah hidup seorang bernama Dr. Viktor E.Frankl adalah penulis buku Mans Search for meaning (Frankl,1959). Ajaran Frankl selain merupakan merupakan suatu pemikiran psikoterapi,juga merupakan suatu filsafat hidup.Merupakan filsafat hidup,karena pemikirannya memberikan interprestasi yang konsisten mengenai hidup, kematian, cinta tanggung jawab dan berbagai aspek penting dalam hidup. Pemikiran Frankl merupakan suatu pandangan psikoterafi. Sebagai pendekatan psikoterapi,pemikiran Frankl disebut Logoterapi (berasal dari kata Yunani,”logo”yang berarti makna). Logoterapi adalah salah satu dari beberapa pemikiran psikoterapi yang bersumbel dari premis eksestensial. A. Kondisi manusia Kecemasan eksistensial. Kematian: Kita semua adalah mahluk yang tidak abadi.Kematian sewaktu-waktu akan datang menjemput kita. Takdir : Takdir kita mungkin suatu kesengsaraan atau malapetaka,yang tidak dapat diramalkan atau dikendalikan. Pilihan : Keharusan untuk membuat pilihan mengundang kecemasan eksistensial. B. Kondisi masyarakat Abad XX, banyak pengamat secara jeli melihat bahwa keadaan itu datang dari kondisi masyarakat yang tidak menguntungkan. Kita masih dapat menambahkan faktor lain seperti melemahnya hubungan antar pribadi dalam massa, tidak adanya bersama mengenai kehidupan yang lebih baik di masa depan,penekanan pada aspek material dan pengabaian segi spiritual. C. Logoterapi 1. Makna Mengikuti contoh Frankl,dan sejumlah psikiater lain,saya kadang bertanya pada orang lain tentang apa yang membuat mereka bertahan hidup. Esperimen informal ini justru langsung mengarah ke jantung dari logoterapi,yang mengatakan bahwa dorongan terkuat bukanlah dorongan untuk mendapatkan kepuasan,seperti yang dinyatakan Freud atau kekuasaan seperti pendapat Adler;namun kebutuhan akan makna. Konsep mengenai makna merupakan inti dari logoterapi. Penekanan kuat pada makna akan menjadi pandangan Frankl tentang dunia sangat berbeda dengan pandangan eksistensial lainnya mengenai dunia 2. Makna tidak identik dengan aktualisasi diri Aktualisasi diri adalah suatu proses yang menjadikan kita seperti adanaya kita,dimana kita mengembangkan dan menyadari cetak biru dari potensi dan bakat kita sendiri. Namun,meski seseorang sanggup sepenuhnya mengembangkan potensinya, belum tentu ia telah memenuhi makna hidupnya. Makna tidak terletak dalam diri kita, melainkan berada di dunia luar. Kita tidak menciptakan makna,atau memilihnya,melainkan harus menemukannya. 3. Makna bersifat unik untuk setiap orang Setiap orang lahir ke dunia mewakili sesuatu yang baru,yang tak ada sebelumnya,sesuatu sesuatu yang orisinil dan Unik. Tugas setiap orang adalah untuk memahami bahwa tak pernah ada seorangpun serupa dirinya, karena jika memang pernah ada seorang serupa dirinya, maka ia tidak diperlukan. Setiap orang adalah sesuatu yang baru, dan harus memenuhi suatu panggilan di dunia(Buber,dikutip Severin,1965). 4. Mengalami Mengalami memiliki nilai terapeutik karena mampu mengimbangi tuntutan dari luar diri kita untuk mmencapai suatu keberhasilan.Seperti terjadi di dunia barat,akibat dari pencapaian di liar diri,membuat orang mengabaikan pengalaman dunia dalam. 5. Penderitaan Manusia dapat memenuhi makna hidup bukan hanya melalui pencapaian dan melalui mengalami, tapi juga melalui penderitaan. Pengamatan terhadap pengalaman kita sendiri,jaga pengalaman orang lain,tampak mendukung sistem nilai yang seakan paradoksal ini. Periode pengembangan diri tak jarang di didahului oleh penderitaan dan keputusasaan. Penderitaan yang pedih merangsang kita untuk berkembang. Seperti kata Nietzche ”yang tak membuat saya terbunuh adalah yang membuat saya tangguh,”(dikutip Frankl,1959). D. Logoterapi dalam praktek Fungsi psikoterapis adalah membantu klien agar lebih sehat secara emosional dan salah satu cara untuk mencapainya adalah dengan memperkenalkan filsafat hidup yang lebih sehat. Dalam Logoterapi,individu yang mengalami gangguan diajak berkenalan dengan pemikiran Logoterapi dan mengajaknya untuk menerapkan pandangan itudalam eksistensinya, mengajaknya untuk menemukan makna hidupnya. Berkenalan dengan pemikiran Logoterapi, bagi banyak orang memberi dampak terapeutis. Menemukan makna hidup merupakan sesuatu yang kompleks. Pada banyak kasus,terapis hanya mengajak klien untuk memulai menemukannya. Terapis harus menghindar untuk memaksakan suatu makna tertentu pada klien ,melainkan mempertajam kepekaan klien akan makna hidupnya. Mungkin cara paling baik yang dapat dilakukan seorang logoterapis –guna membantu klien agar mengenali apa yang akan ia lakukan dalam hidup-adalah dengan memperdulikan dan menciptakan atmosfer yang bersahabat, sehingga klien bebas menjelajahi keunikan dirinya tanpa rasa takut ditolak. E. Ringkasan dan kesimpulan Logoterapi coba melawan keputusasaan yang disebabkan oleh kondisi seperti itu dengan cara menegaskan bahwa setiap kehidupan individu mempunyai maksud,tujuan dan makna yang harus diupayakan untuk ditemukan dan dipenuhi. Hidup kita tidak lagi kosong jika kita menemukan suatu sebab atau orang yangyang terhadapnya kita dapat mendedikasikan eksistensi kita. Bab 8 Penutup A. Beberapa catatan kritis Pentingnya menganalisis masa depan pasien didasarkan pada kenyataan eksistensial bahwa kehidupan atau perilaku manusia (pasien), sedikit atau banyak, bisa dipahami dengan cara menganalisis orientasi masa depannya. Catatan kedua berkaitan dengan relasi antara manusia dan dunianya. Manusia harus mengejar dan menemukan makna. Makna, menurutnya, berada dalam dunia dan dunia berada di luar manusia. B. Apakah analisis eksistensial masih dipeerlukan untuk masa kini dan masa depan? Psikologi harus menjadi suatu science (ilmu pasti alam) yang independen. Padahal, analisis eksistensial mengeritik ilmu dan mengambil manfaat dari filsafat (fenomenologi dan eksistensialme). Para analisis eksistensial menyadari kompleksitas manusia yang mereka hadapi. Mereka menyadari bahwa manusia bukan hanya merupakan mahluk biologis atau fisis,melainkan juga sebagai mahluk yang unik dan mempunyai kesadaran Para analisis eksistensial bukanlah orang-orang dogmatis,yang memandang pendekatan-pendekatan lain sebagai tidak berguna. Mereka menyadari bahwa pendekatan analisis eksistensial merupakan suatu alternatif,terutama jika pendekatan-pendekatan lain mengalami jalan buntu.Mereka pun menyadari bahwa penerapan analisis eksistensial cukup terbatas. Analisis eksistensial barangkali sangat cocok dengan kondisi kita. Pemahaman intersubjektif atas individu dan pendekatan yang bersifat intim dengan klien,sangat membantu pemahaman dan terafi dalam masyarakat yang bersifat kolektivistik seperti indonesia.Bukankah merupakan sesuatu yang alami jika orang ingin dihargai,diakui,dipahami dan diperlakukan sebagai manusia manusia,sebagaimana yang dianjurkan oleh para analis eksistensial BAB III Penutup A. Kesimpulan Analisis eksistensial adalah suatu metode atau pendekatan yang digunakan baik untuk mengungkap gejala eksistensial dan pengalaman manusia, maupun untuk terapi psikiatri dan psikologi terhadap subjek atau klien yang membutuhkan penanganan psikiatri dan psikoterapi.munculnya analisis eksistensial diawali oleh Heidegger, yang kemudian dikembangkan oleh Kieregaard dan Nietzsche. Inti dari eksistensialisme disini adalah untuk mencapai pemaknaan pada hidup manusia dari sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Pemaknaan hidup itu muncul untuk mengatasi kematian, kecemasan, dan rasa bersalah yang pasti dialami oleh semua manusia. Makalah ini juga menyajikan tentang dunia orang kompulsif yang berbeda dari dunia kita, dimana individu sepenuhnya hidup dalam dunianya sendiri, terpisah dari dunia orang normal dan sukar untuk “ditembus” oleh orang lain. Kontribusi eksistensial terhadap dunia psikologi diantaranya adalah tentang ada dan ketiadaan, kecemasan dan rasa bersalah, ada-dalam-dunia, tiga bentuk (modus) dunia, waktu, dan sejarah. Bagaimana cara melampaui (mengatasi) situasi saat ini, juga disertai beberapa implikasi untuk teknik psikoterapeutik. Salah satu tokoh eksistensial yang paling berperan adalah Victor Frankl yang mencetuskan tentang teknik logoterapi untuk mencari makna dalam kehidupan seseorang. Tokoh lain diantaranya adalah Kierkegaard, dan Nietzsche. B. Saran Dalam membuat makalah ini, penulis sadar bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan karena kesempurnaan hanya milik Allah. Untuk itu, penulis sangat terbuka untuk menerima segala kritik dan saran yang yang ditujukan untuk lebih menyempurnakan makalah ini. Penulis mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada semua pihak yang membantu terselesaikannya makalah ini. Daftar Pustaka Abidin, Zainal, 2002, Analisis Eksistensial untuk psikologi dan psikiatri, Bandung: Refika Aditama

Tidak ada komentar:

Posting Komentar